Youth for Peace

To begin with, Youth is best understood as a period of transition from the dependence of childhood to adulthood’s independence. That is why, as a category, youth is more fluid than other fixed age-groups. It is also defined as “the appearance, freshness, vigor, spirit, etc., characteristic of one who is young”. Youth is also defined as a social position that reflects the meanings different cultures and societies give to individuals between childhood and adulthood (United Nation, 2007: 1).

Furthermore, the entire success of the nation depends on the youth. It is clear that young people make up a greater proportion of the global population than ever before. Almost half (48%) of the world’s populations are under 24 years old. For that reason, youth or young people should be able to read, write, think, understand, analyze and discuss about the issues faced by their nation and that is why they should get a good education because they need to learn about what their nation needs in terms of education, economics, politics, social, culture, etc.

We know that Indonesia, however, have a lot of talented young people from many backgrounds, such as entrepreneurs, scientists, artists, engineers, etc. The role of youth is really important today for the future of Indonesia, albeit there are only a few young people understood about how to defense their country.

Regarding many problems and conflicts faced by Indonesia, young people need good morals and values to handle those conflicts in a positive way by learning the defense and conflict in Indonesia. So they know how to solve it right away.
Baca selengkapnya

Guru, Tanggung Jawab, dan Kesejahteraan

Guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Begitu berat tugas seorang guru jika kita berkaca pada pengertian tersebut.

Seorang guru harus mengerjakan banyak tugas dan kewajiban dengan baik dan secara profesional. Profesional dalam artian berkerja sesuai dengan porsi jamnya di sekolah dan mengerjakan tugas-tugas diluar sekolah seperti, membuat RPP, membuat materi dan bahan ajar, membuat bahan evaluasi, mengevaluasi hasil belajar, dan masih banyak tugas lainnya. Bahkan tugas yang sangat banyak tersebut harus dikerjakan oleh seorang guru seharian penuh di sekolah dan diluar sekolah.
Menteri Anies pada konferensi internasional di bawah Dirjen UNESCO Irina Bokova, bekerja sama dengan Geneva Spiritual Appeal Swiss dan Public Policy Institute Bulgaria pada 10-12 Maret 2016 mengatakan bahwa jumlah guru PNS meningkat 23 persen dari tahun 2000 hingga 2015, yaitu dari 1,42 juta menjadi 1,75 juta. Guru honorer pada periode yang sama meningkat 860 persen, dari 84,6 ribu menjadi 812,1 ribu. Adapun jumlah siswa meningkat 17 persen, yaitu dari 37,9 juta menjadi 44,5 juta.
Setiap tahunnya jumlah guru honorer selalu bertambah banyak dan melonjak tajam. Dan hal tersebut sayangnya tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan pendidikan di Indonesia, hasilnya banyak lulusan keguruan baru yang kebingungan mencari pekerjaan, dan bahkan yang sudah menjadi guru honorer yang sangat lama pun tak kunjung juga diangkat menjadi PNS.
Baca selengkapnya

Reformasi Pendidikan Indonesia

2 Mei merupakan Hari Pendidikan Nasional atau sering kita singkat dengan HARDIKNAS, bertepatan dengan hari lahirnya Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan Indonesia dan pendiri Taman Siswa.

Tahun ke tahun, peringatan hari ini selalu dirayakan secara luas di Indonesia. Ya, minimal diadakan upacara bendera di sekolah atau tingkatan sekolah tinggi. Tahun ke tahun pula lah pendidikan Indonesia selalu menjadi bahan renungan dan evaluasi massal bagi masyarakat Indonesia secara luas. Kita lihat saja media sosial, seperti Facebook, Path, Twitter, Instagram, Line, BBM, dan Whatsapp, hampir semuanya dipenuhi kata demi kata tentang pendidikan, walalupun hanya sebatas ucapan selamat atau kutipan kata-kata dari tokoh-tokoh terdahulu. Dijalan, walaupun tak sebanyak dulu, masih banyak orasi-orasi dari suara-suara guru dan mahasiswa untuk menyuarakan keluh kesahnya tentang pendidikan Indonesia.

Sayangnya, renungan dan evalasi massal tersebut terkadang hanya akan menjadi angin lalu saja. Silahkan kita tunggu besok (tanggal 3 Mei), lusa, atau tiga hingga lima hari selanjutnya, kata-kata dan suara-suara hanya akan menjadi goretan dan gaungan yang tertinggal begitu saja tanpa adanya aksi menyeluruh tentang bagaimana sebenarnya yang dibutuhkan Pendidikan Indonesia. Sejatinya pendidikan Indonesia tak akan berkembang pesat jika kesadaran melalui kata dan suara kemudian tak menjadi kesdaran kolektif bersama.
Baca selengkapnya

Uang Pas Aja…

Uang adalah alat tukar yang secara umum kita gunakan dalam transaksi jual beli maupun jasa setiap harinya. Setidaknya itu yang pernah saya pelajari tentang definisi uang ketika belajar di Sekolah Dasar, selebihnya uang sendiri adalah apa yang ada di dompet, kantong, rekening, bawah kasur, celengan, atau bahkan di sela-sela dashboard motor matic untuk sekedar menyimpan uang receh kembalian parkir.

“Uang pas aja”…

Kata itu mungkin cukup sering kita dengar dalam beberapa transaksi kita sehari-hari, seperti ketika di pasar melakukan jual beli, di tempat makan, dan ketika membayar angkutan umum. Biasanya kata-kata “uang pas aja” dikatakan si penjual atau supir ketika pembeli atau penumpang membayar dengan uang yang melebihi apa yang seharusnya dibayarkan.

Dulu saya kira hal seperti itu merupakan hal yang biasa-biasa saja. Seperti ketika saya membeli makanan seharga Rp. 10.000,00 dan membayarnya dengan Rp. 100.000,00., atau turun dari angkutan umum yang seharusnya membayar seharga Rp. 5.000,00 dan membayarnya dengan Rp. 50.000,00., saya kira hal itu akan menjadi hal yang biasa saja, hanya sekedar tentang “kembalian”. Dan ketika memang kembaliannya tidak ada, biasanya penjual atau supir mencoba untuk mencarinya atau terkadang saya yang diminta mencari “tukeran” uang pecahan tersebut.

Sampai pada saat ketika beberapa saat yang lalu saya kembali merasakan naik mobil angkutan umum setelah sekitar 2 tahun sudah tidak menggunakan jasa tersebut. Hari itu sebetulnya saya terpaksa harus menggunakan jasa angkutan umum karena motor yang biasa saya gunakan harus menjadi rezeki orang lain. Ketika itu hanya seorang ibu di depan samping pak supir, seorang ibu tepat di belakang supir, dan saya yang duduk di pojok paling belakang. Awalnya tak ada yang aneh, tak ada percakapan apapun antara kami, karena kami pun tak saling mengenal dan juga tak saling memulai percakapan.

Ditengah perjalanan kedua ibu tersebut telah sampai ditujuannya dan seperti biasa ibu itu mengatakan “kiri bang”, sesaat setelah mobil berhenti si ibu yang di belakang pak supir pun mengeluarkan uang Rp. 100.000,00 untuk pembayaran yang hanya Rp. 3000,00 saja. Sontak pak supir menolak dengan nada tinggi dan silanjut dengan nada tinggi dari si ibu.

 Pak Supir             : “Uang pas aja bu!”

Ibu                         : “ya terus gimana pak?! Gak ada!”

Pak Supir             : “Ya gimana, saya juga gak ada! Cuma tiga ribu, bayar 100.000 si ibu lagian!”

Ibu                         : “Demi Allah pak gak ada, bapaknya jangan nyolot gitu dong! Saya kan bilang gak ada lagi!”

Pak Supir             : “Ya ibunya juga keterlaluan jadi orang!”

 

Kira-kira seperti itulah percakapan dengan nada tinggi antara pak supir dan si ibu. Dan setelah perdebatan selesai kemudian pak supir melanjutkan perjalanan kembali. Sambil menyetir, pak supir masih menggerutu tentang kejadian tersebut dan mencoba menjelaskan kepada saya apa yang sebenarnya terjadi.

“Bukan apa-apa bang, bukannya saya gak mau ngasih itu uang. Tapi nih ya bang saya aja sehari narik cuma dapat lima puluh ribu, itu juga buat setoran. Saya dapat segitu juga kalo full narik 4 rit (istilah dalam mobil angkutan umum untuk 1x putaran tujuan perjalanan). Nah kalo si ibu bayar 100.000, saya mau bayar pakai apa?. Mau dipaksa juga gak ada, saya baru 2 rit ini. Memang kadang-kadang ada uang segitu, itu kalau saya belum setoran untuk 2 atau 3 hari. Ditambah sekarang makin susah dapat penumpang….”

Mendengar penjelasan pak supir, saya  baru saja tersadar tentang apa yang menurut kita sepele, bagi orang lain belum tentu sesepele itu. Uang yang bagi sebagian orang mungkin kecil, bagi sebagian lainnya sangat besar dan berarti. Bukan tentang uangnya, tapi tentang bagaimana kita menempatkan diri dalam setiap situasi. Kisah pak supir dan seorang ibu tadi sebenarnya sangat sepele, namun permasalahannya adalah si ibu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan mungkin itu pula yang terjadi pada kita, kata-kata “uang pas aja” yang menurut sebagian orang menjadi hal yang sepele, namun bagi pak supir atau juga para penjual menjadi hal yang penting, maka sebaiknya siapkanlah dulu uang pas untuk menggunakan kendaraan umum.

Dipecundangi Mimpi

Adinda, aku hampir kalah oleh mimpiku sendiri, aku dipecundangi dengan keadaan. Masih mau kah dirimu dengan sang pencundang adinda?

Adinda, di suatu pagi yang tenang dan dingin aku terbangun, terlihat sedikit cahaya dari celah jendela kamar kecil berukuran 4 x 4, seingatku tak ada cahaya lain pada pagi itu selain setitik cahaya yang memantul ke dinding kamar melalui celah kecil jendela kamar. Hanya ada kipas angin yang seakan megejekku dengan gelengan kepalanya ke kanan dan ke kiri yang pun seakan mau tak mau untuk memberikan kesejukannya, ada juga televisi layar cembung yang masih menyala dan sedikit redup, dan juga sisa mimpi-mimpi besarku yang ternyata masih berserakkan dimana-mana.

Aku pun tak ingat, apakah itu sisa mimpi malam sebelum pagi itu atau memang sisa dari kumpulan mimpi-mimpiku yang sudah terlalu banyak berserakkan dari malam-malam sebelumnya yang tak sempat aku buang ke tong sampah. Yang ku ingat hanya mimpi-mimpi itu masih berserakkan dimana-mana, bahkan ada yang sudah terlihat usang dan berdebu.
Sayangnya, pantulan cahaya kecil dari celah jendela tak membantuku untuk segera beranjak dari kasur brengsek. Ya brengsek, karena dari situ aku memulai mimpi di tiap malamku dan dari situ pula lah aku membiarkan mimpiku berserakkan.

Aku ingat pada saat itu jam dinding yang terlihat masih samar-samar menunjukkan kira-kira pukul 06.13. Terdengar diluar suara burung yang entah sedang bernyanyi atau berbicara, semoga saja burung itu tak sedang mengintip dari celah jendela sehingga dia punya bahasan untuk kawanannya untuk mereka tertawakan. Tubuhku masih saja tak sedikitpun bergerak, masih saja berfikir harus diapakan mimpi-mimpi yang berserakkan itu, seingatku tong sampah di kamarku pun tak akan cukup untuk menampungnya. Mimpiku sangat besar, kau tahu itu adinda, besarnya kira-kira tak jauh beda dengan besarnya kepalaku, namun beratnya tak seringan isi kepalaku. Jumlahnya pun tak sedikit, kira-kira jumlahnya lebih dari jumlah jari ditanganku. Pernah suatu hari aku meminta temanku untuk membawa pulang salahsatunya, namun dia pun tak kuat untuk mengangkat dan membawanya pulang. Jangankan untuk dibuang ke tong sampah, untuk diangkat saja tak seorang pun yang mampu adinda. Sementara, aku masih saja tak beranjak dari si brengsek.

Tak terasa, ternyata cahaya yang memantul ke dinding melalui celah jendela pun semakin memaksa untuk masuk ke kamar kecilku. Anehnya, mimpi-mimpiku pun mulai bergerak menghindari cahaya tersebut. Mereka mulai bersembunyi adinda, ada yang dibawah meja, naik keatas lemari, menutupi dirinya dengan baju kotor yang ketika itu belum sempat ku cuci, dan juga ada yang bergegas lari ke kamar mandi.

Adinda, kau tahu? Mimpiku takut akan cahaya dan aku tertawa kecut melihatnya. Mereka berlari seperti pecundang, padahal itu hanya setitik cahaya yang baru saja memaksa untuk masuk ke kamarku. Melihat tingkah laku mereka tersebut, ketika itu aku pun terlintas fikiran untuk sesegera mungkin membuka lebar-lebar jendela kamarku, sehingga akan ku biarkan saja masuk semua cahaya ke kamarku agar semua mimpiku ketakutan lalu pergi dan menghilang dengan sendirinya. Jadi, aku tak perlu capek-capek untuk mengangkatnya satu-satu untuk dibuang. Namun, sayangnya si burung sialan itu masih saja diluar, aku takut dia melihat mimpi-mimpiku ketakutan dan membuatnya tertawa dan meceritakan kejadian tersebut ke kawanannya, sehingga aku memutuskan untuk menunggu dirinya pergi.

Tak lama kemudian aku menoleh ke jam dinding, pada saat itu sepertinya sudah pukul 06.50, aku melihatnya masih saja samar-samar. Sudah tak terdengar suara kicauan si burung sialan itu, namun cahaya yang tadinya memaksa masuk pun perlahan menarik diri kembali keluar. Bergegas aku beranjak dan mengejar cahaya tersebut untuk ku tarik kembali ke kamarku, namun ternyata cahaya tersebut terlalu kuat untuk diriku seorang adinda, dia tetap saja perlahan menarik dirinya keluar. Lantas spontan aku berteriak, “hei hei! Jangan jangan! Jangan pergi! Masuklah kemari!”. Namun sayang, dia tak mendengarnya dan dia terus saja menarik diri keluar.

Saat itu aku masih tak terlalu gelisah adinda, fikirku masih banyak cahaya diluar sana. Langsung saja aku bergegas membuka jendela kamarku agar semua cahaya masuk untuk mengusir mimpi-mimpiku yang sudah sangat lama berserakkan dan bahkan sudah berdebu itu. Dasar memang sial, cahaya tadi mengajak cahaya-cahaya lainnya untuk segera pergi dan bersembunyi dibalik gumpalan awan yang gelap. Angin pun mulai tak bersahabat, awan gelap pun mulai bersatu, dan pagi yang tadinya tenang pun mulai menyeramkan.

Adinda, kau tahu apa yang terjadi pada tubuhku di pagi itu? Tak bergerak sedikitpun. Awan gelap diluar memaksaku untuk tetap didalam kamar, namun mimpi-mimpiku yang tadinya bersembunyi mulai bergerak kembali keluar dari persembunyiannya. Tak ada lagi ketenangan di pagi itu untukku adinda, tubuhku tak bergerak, namun fikiranku ingin melangkah. Dan mimpi-mimpiku? Mereka terus saja bergerak mendekat kearahku. Pada saat itu aku mulai takut adinda. Tubuhku gemetar, keringatku mulai membasahi tubuh, mataku hanya terpaku pada jam dinding yang terus bergerak seakan tak perduli dengan diriku, dan telingaku hanya mendengar debaran jantung yang berdetak semakin kencang.

Mimpi-mimpiku semakin mendekat adinda, mereka tertawa, mereka menertawaiku adinda. Aku pun mulai pucat, fikiranku mulai berhenti, mulutku tak bergerak, dan mataku mulai terpejam. Mulai kupaksakan langkah kakiku untuk bergerak yang rasanya sangat berat adinda. Sambil memejamkan mata, aku berusaha untuk bergerak tak tentu arah, yang pasti ku ingat pada saat itu di kananku adalah jendela kamar, lantas ku tutup terlebih dahulu jendelanya agar si burung sialan tak melihatku dalam keadaan seperti itu. Setelah itu, baru aku memaksakan kembali langkah kakiku mundur menjauhi mimpi-mimpiku yang perlahan menghampiri sambil tertawa.

Baru saja beberapa langkah aku mundur, sudah terasa tembok kamar menyentuh tumit kakiku. Sedangkan mimpi-mimpiku terus saja bergerak mendekat dan mentertawaiku. Tubuhku di pagi itu semakin tak kuat menahannya adinda, mataku yang kupaksa untuk terbuka justru semakin remang-remang, tubuhku semakin lemas, keringatku menjadi dingin, dan akupun mulai tak mengingat apa-apa adinda, kemudian tubuhku terkapar.
Tak berselang lama kemudian, aku terbangun dengan tubuh yang masih lemas, dan jam dinding sudah menunjukkan kira-kira pukul 12.30 siang, sedangkan mimpi-mimpiku sudah sangat dekat denganku, mereka bahkan menempel ditubuhku. Mereka sudah tak tertawa lagi, namun terus menatapku tajam adinda.

Sejak pagi itu, aku selalu dibuntuti oleh ketakutan akan mimpiku adinda. Mereka selalu menatapku tajam. Aku hampir kalah oleh mimpiku sendiri, aku dipecundangi dengan keadaan. Masih mau kah dirimu dengan sang pencundang ini adinda?

Nonaku yang Tak Sempurna

Nona, kau memang tak sempurna.
Kau datang disaat hujan mulai reda.
Bukan, kau bukan pelangi.
Kau juga bukan matahari.

Nona, kau memang tak sempurna.
Kau datang disaat hitam mulai memudar.
Berusaha menjadi putih tapi kau hanya abu.
Berusaha menjadi warna lain tapi kau hanyalah abu.

Nona, kau memang tak sempurna.
Kau tak pandai berkata tentang cinta.
Kau tak pandai mengungkap rasa.
Kau tak pandai menjadi warna.

Nona, kau memang tak sempurna.
Ku bilang, “kapan kau menjadi warna lain?”
Kau bilang, “aku ingin jadi warnaku sendiri”.
Lalu kau bilang, “Aku ingin tetap menjadi abu untukmu”.

Nona, kau memang tak sempurna.
Yang aku sering lupa adalah abu itu sendiri adalah warna.
Yang aku sering lupa adalah abu itu sendiri adalah rasa.
Yang aku sering lupa adalah abu itu sendiri adalah cinta.

Nona, kenyataannya aku pun sama saja.
Aku hanyalah abu yang berusaha merubah warna.
Aku hanyalah abu yang berusaha mencinta.
Aku hanyalah abu yang lupa bahwa warna lain adalah sekeliling kita.
Nona, kau memang tak sempurna.
Namun aku mencintaimu seutuhnya.
Entah apa alasannya.
Yang aku tahu hanya aku mencintaimu seutuhnya.

Nona, kau dan aku memang tak sempurna.
Karena memang yang kita butuhkan hanyalah saling menerima seutuhnya.
Kemarin, hari ini, esok, lusa, dan entah sampai kapan.
Anganku untuk selamanya.
F.A 020113-020117

Pak Budi dan Bu Ani, Sesama Guru, Beda Kondisi

Pada 24-25 November 1945 diselenggarakan Kongres Guru Indonesia di Surakarta dari segala kelompok dan golongan guru untuk bersatu dan menghapuskan segala kelompok dan golongan guru yang ada. Di kongres inilah, pada tanggal 25 November 1945 yang bertepatan dengan seratus hari kemerdekaan Indonesia menjadi sejarah lahirnya hari guru nasional yang bertepatan juga dengan lahirnya Persatuang Guru Republik Indonesia (PGRI). Semenjak saat itulah guru-guru di Indonesia seakan mendapat naungan yang jelas untuk mengutarakan ide, kondisi, bahkan nasib mereka.

Tahun ke tahun berganti, dan tiap tahun itu pulalah nasib guru-guru di Indonesia merasakan pasang surutnya. Kebijakan dan wacana untuk mensejahterakan guru-guru di Indonesia pun silih berganti walau terkadang hanya bagaikan fatamorgana di tengah gurun pasir yang hanya menjadi bayangan semu dengan segala janjinya. Dan hari ini, tepat di hari guru ke-71, nasib guru pun tak begitu menentu walau beberapa kebijakan telah dicoba oleh pemerintah. Disaat mulai banyak sekolah modern dengan segala sarana prasarana yang sangat baik untuk menunjang kebutuhan guru beserta kesejahterannya bermunculan, namun ternyata masih sangat banyak pula sekolah di Indonesia yang jauh dari kata baik untuk menunjang kebutuhan guru baik dari segi sarana prasarana maupun kesejahterannya. Padahal hari ini profesi guru di beberapa daerah tak lagi hanya menjadi pilihan terahir untuk profesi seseorang, bahkan guru bagai primadona yang menjadi bahan rebutan si pemilik gelar S.Pd.

Dalam artikel ini saya ingin menceritakan dua kisah yang bertolak belakang kondisinya dari dua sosok berbeda. Pak Budi dan Bu Ani rasanya nama yang tak asing bagi kita yang telah melewati masa sekolah dasar, nama yang santer muncul dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Namun hari ini nampaknya Pak Budi dan Bu Ani telah mengalami kondisi yang berbeda.

Pak Budi, seorang tamatan sarjana pendidikan dari Sekolah Tinggi swasta yang telah mengenyam berbagai ilmu tentang bagaimana untuk melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar di kelas dan manajeman pendidikan diluar kelas kemudian memilih untuk melanjutkan mengajar di sekolah swasta di daerah yang dinaungi oleh sebuah yayasan dan memiliki sarana dan prasarana yang tak begitu baik. Setiap hari senin hingga sabtu Pak Budi mengajar mata pelajaran Pendidikan Matematika di beberapa kelas, terhitung hingga 28 jam per minggu waktunya dihabiskan di dalam kelas untuk melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar dengan segala keterbatasan sarana prasaran yang ada. Diluar kelas pak budi pun harus menyelesaikan tugas guru lainnya seperti membuat RPP dan media belajar yang sesuai dengan kondisi sekolah, membuat soal dan melakukan pengkoreksian, dan lain sebaginya. Namun Pak Budi harus berlega diri karena tak ada tekanan dari orang tua dan wali murid dan tak banyak tuntutan dari atasan di sekolahnya.

Untuk pekerjaan yang telah dilaksanakannya tersebut, Pak Budi mendapatkan upah sebesar Rp. 7.500 per jamnya, yang artinya pak Budi hanya mendapat gaji pokok Rp. 210.000 per minggu dan Rp. 840.000 per bulannya. Dari jumlah gaji tersebut, Pak Budi memang masih mendapatkan tambahan lagi dari program sertifikasi yang turun setiap 3 bulan sekali sejumlah 3 juta, walau terkadang tersendat bahkan sempat terlupakan, namun cukup menjadi angin segar sesekali untuk Pak Budi. Jika dirinci kembali, Pak Budi mendapatkan sekitar Rp. 1.840.000 per bulannya. Jumlah tersebut sudah sangat jauh membaik dibandingkan dengan teman guru lainnya yang tak sanggup memenuhi beban mengajar 24 jam. Cukupkah untuk Pak Budi yang harus membuat media pembelajaran di kelasnya sendiri? Cukup kah untuk Pak Budi yang juga merupakan seorang kepala keluarga yang juga harus menafkahi keluarganya? Mungkin hanya semangat dan keikhlasan dari Pak Budi saja yang membuat dirinya senanantiasa terus ada dan hadir untuk setiap hari mentransfer ilmu kepada muridnya. Mungkin hanya senyum dari murid-muridnya lah yang membuat Pak Budi senantiasa terus melangkahkan kakinya dari hari ke hari untuk menyapa mereka di kelas.

Lain Pak Budi, lain pula Bu Ani, seorang tamatan sarjana pendidikan dari universitas negeri yang juga sama seperti Pak Budi telah mendapatkan banyak ilmu tentang bagaimana mengajar di kelas dan manajemen pendidikan yang baik . Setelah mendapatkan gelar sarjana pendidikannya, dengan kemampuan yang telah dimiliki ditambah dengan kemampuan berbahasa Inggrisnya, Bu Ani memilih untuk menjadi guru Pendidikan IPA di sekolah internasional yang murid-muridnya berasal dari kalangan anak pejabat dan pengusaha. Bu Ani mengajar setiap hari senin hingga jumat mulai dari pukul 07.00 hingga pukul 15.00, sedangkan di hari sabtu dan minggu dapat digunakan Bu Ani berada di rumah. Bu Ani mendapatkan jumlah jam mengajar hingga 24 jam per minggunya. Sama seperti Pak budi, Bu Ani pun harus mengerjakan pekerjaan guru lainnya diluar kelas seperti membuat RPP, media pembelajaran, soal-soal, dan lain sebagainya.

Soal upah yang harus didapat, Bu Ani berbeda dengan Pak Budi, Bu Ani mendapatkan kontrak per tahun dengan sekolah tersebut dengan tanpa perjanjian hitungan upah perjam seperti Pak Budi, Bu Ani dikontrak oleh sekolah inernasional tersebut sebesar Rp. 3.500.000 per bulannya. Dengan jumlah tersebut, Bu Ani mendapatkan tambahan kembali dari pengayaan atau bimingan yang diminta para orang tua kepada mata pelajaran yang dipegang Bu Ani, jumlahnya hingga mencapai Rp. 2.500.000 per bulannya. Jadi jika di total, per bulannya Bu Ani mendapatkan pendapatan hingga Rp. 6.000.000 dari hasil mengajar di kelas dan diluar jam mengajar. Tentu enak bukan? Tak seperti Pak Budi, Bu Ani tak harus menanti hembusan angin untuk menyegarkan dirinya, Bu Ani tak perlu lagi rasanya menunggu belas kasihan pemerintah untuk mendapatkan dana bantuan atau sertifikasi, dan lain sebagainya.

Apakah Bu Ani benar-benar senang? Ternyata masih saja ada yang mengganjal dihati Bu Ani walaupun dengan pendapatan yang melimpah. Tuntutan dari orang tua dan wali murid kepada sekolah sangat tinggi karena merasa sudah membayar mahal untuk sekolah anaknya, sehingga membuat pihak sekolah memberikan tekakan kepada Bu Ani. Jika saja Bu Ani melakukan kesalahan walaupun sekecil apapun itu, hal itu akan membuat orang tua dan wali murid menuntut ke pihak sekolah yang kemudian membuat Bu Ani mendapatkan tekanan lebih. Bahkan tak sedikit orang tua dan wali murid yang meminta perhatian lebih ke tiap anaknya, seperti memberilatihan tambahan yang berbeda dengan yang lain, komunikasi lebih, dan lain sebagainya.

Pak Budi dan Bu Ani adalah contoh dua sosok dari sekian banyak guru di Indonesia. Sama-sama memiliki gelar sarjana yang sama dan memilih jalan untuk tetap setia dengan gelarnya, namun memiliki kondisi yang berbeda. Tak dapat di generalisasikan begitu saja memang, namun setidaknya dua perbedaan kondisi inilah yang dapat menjadi gambaran kita tentang bagaimana seorang guru selalu memikul beban yang begitu berat dipundaknya, bagaimanapun itu kondisinya. Pundi rupiah tak hanya satu-satunya faktor yang membuat seorang guru lantas kemudian bahagia ternyata, lebih dari itu, guru hanya ingin menyelesaikan tugasnya untuk mencerdaskan anak bangsa. Pak Budi, Bu Ani, tak banyak orang tahu bagaimana kondisi batin mereka, kebanyakan orang hanya ingin tahu bagaimana murid di sekolah dapat mendapatkan ilmu yang layak. Tak banyak pula yang tahu tentang bagaimana harus bekerja kerasnya Pak Budi dan Bu Ani harus menyelesaikan tugasnya walaupun itu diluar jam kerjanya. Pak Budi, Bu Ani, terima kasih atas segala pengorbanan yang kalian telah berikan, selamat hari guru nasional.

PEDOMAN DASAR DAN PEDOMAN RUMAH TANGGA (PD PRT) LEMBAGA PENDIDIKAN MAHASISWA ISLAM (LAPENMI) HMI CABANG CIPUTAT

PEDOMAN DASAR DAN PEDOMAN RUMAH TANGGA

LEMBAGA PENDIDIKAN MAHASISWA ISLAM

(LAPENMI) HMI CABANG CIPUTAT

  

PEDOMAN DASAR

LEMBAGA PENDIDIKAN MAHASISWA ISLAM

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

CABANG CIPUTAT

 MUKADIMAH

 Sesungguhnya Islam sebagai ajaran yang hak dan sempurna telah meliputi seluruh aspek kehidupan manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Hal tersebut sudah tidak diragukan lagi kebenarannya. Salah satu aspek penting adalah pendidikan yang merupakan hal yang sangat penting bagi suatu umat.

Mahasiswa Islam sebagai generasi muda yang sadar akan hak dan kewajibannya serta peran dan tanggung jawab kepada umat manusia dan bangsa dalam mengisi kemerdekaan bangsanya bertekad memberikan darma baktinya dalam mewujudkan nilai-nilai keislaman, meningkatkan, dan mengembangkan pendidikan bangsa menuju masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.

Meyakini bahwa tujuan itu dapat dicapai dengan taufik dan hidayah Allah SWT serta usaha-usaha yang teratur, terencana dan penuh kebijaksanaan dalam rangka ilmu amaliah dan amal ilmiah, maka dengan nama Allah SWT anggota HMI berhimpun di dalam Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam Himpunan Mahasiswa Islam (LAPENMI HMI) Cabang Ciputat, dengan pedoman dasar sebagai berikut :


 

BAB I

NAMA, WAKTU, DAN TEMPAT KEDUDUKAN

 

Pasal 1

Nama

Lembaga ini bernama Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Ciputat, disingkat LAPENMI HMI Cabang Ciputat.

Pasal 2

Waktu dan Tempat Kedudukan

Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Ciputat didirikan pada tanggal ………………. 1384 H bertepatan dengan …………………. 2015 M di Ciputat untuk waktu yang tidak ditentukan dan berkedudukan di HMI Cabang Ciputat.

BAB II

TUJUAN DAN SIFAT

 

Pasal 3

Tujuan

Terbinanya Insan Cita HMI yang professional di bidang pendidikan guna meningkatkan kualitas keilmuan masyarakat.

Pasal 4

Sifat

LAPENMI HMI  Cabang Ciputat bersifat semi otonom

BAB III

STATUS, FUNGSI, DAN PERAN

 

Pasal 5

Status

LAPENMI HMI Cabang Ciputat merupakan salah satu badan khusus HMI Cabang Ciputat yang dibentuk untuk menyalurkan kemampuan ilmu dan profesi anggota HMI Cabang Ciputat di bidang pendidikan.

Pasal 6

Fungsi

  1. Meningkatkan kemitraan yang didasarkan pada profesionalisme anggota, dalam bidang pendidikan.
  2. Melaksanakan dan mengembangkan kebijakan HMI di bidang pendidikan untuk meningkatkan keahlian anggota melalui pendidikan, penelitian, dan latihan kerja praktek serta darma bakti kemasyarakatan.

 

Pasal 7

Peran

LAPENMI HMI Cabang Ciputat berperan sebagai wadah pembinaan anggota HMI yang memiliki profesionalisme keilmuan di bidang pendidikan dan yang peduli terhadap dunia pendidikan serta memberikan  kontribusi bagi masyarakat.

BAB IV

KEANGGOTAAN

 

Pasal 8

Keanggotaan

  1. Yang dapat menjadi anggota LAPENMI HMI Cabang Ciputat adalah seluruh anggota biasa HMI Cabang Ciputat yang dinyatakan lulus LK-1 dan telah mengikuti Rekrutmen Guru Bangsa (RGB)
  2. Anggota LAPENMI HMI terdiri dari :
  3. Anggota Biasa
  4. Anggota Kehormatan
  5. Setiap anggota memiliki hak dan kewajiban.
  6. Status keanggotaan, hak, dan kewajiban anggota LAPENMI HMI Cabang Ciputat diatur lebih lanjut dalam PRT LAPENMI HMI Cabang Ciputat.

 

BAB V

STRUKTUR LEMBAGA

 

Pasal 9

Kekuasaan

Kekuasaan tertinggi Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam ditingkat Cabang dipegang oleh Musyawarah Lembaga.

Pasal 10

Kepemimpinan

Kepemimpinan organisasi di tingkat Cabang dipegang oleh Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat.

 

Pasal 11

Majelis Pengawas dan Konsultasi

Di tingkat Cabang dibentuk Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Lembaga (MPKPL) LAPENMI HMI Cabang Ciputat.

BAB VI

KEUANGAN DAN HARTA BENDA

 Pasal 12

Keuangan dan Harta Benda

  1. Keuangan dan harta benda LAPENMI HMI Cabang Ciputat dikelola dengan prinsip transparasi, bertanggung jawab, efektif, efisien, dan berkesinambungan.
  2. Keuangan dan harta benda LAPENMI HMI Cabang Ciputat diperoleh dari uang pangkal anggota, iuran dan sumbangan anggota, usaha melalui praktek keprofesian, sumbangan alumni dan usaha lain yang halal dan tidak mengikat.

BAB VII

PERUBAHAN PEDOMAN DASAR DAN PEMBUBARAN

 Pasal 13

Perubahan Pedoman Dasar dan Pembubaran

  1. Perubahan Pedoman Dasar LAPENMI HMI Cabang Ciputat hanya dapat dilakukan oleh Musyawarah Lembaga.
  2. Keuangan dan harta benda LAPENMI HMI Cabang Ciputat sesudah dibubarkan harus diserahkan pada HMI setingkat.

BAB VIII

PENJABARAN PEDOMAN DASAR DAN PENGESAHAN

 Pasal 14

Penjabaran Pedoman Dasar

  1. Penjabaran pasal 6 tentang fungsi organisasi dirumuskan dalam Pedoman Perkaderan LAPENMI HMI Cabang Ciputat.
  2. Penjabaran pasal 7 tentang peran organisasi dirumuskan dalam Progranm Kerja LAPENMI HMI Cabang Ciputat.
  3. Penjabaran Pedoman Dasar tentang hal-hal di luar point a dan b di atas dirumuskan dalam Pedoman Rumah Tangga.

Pasal 15

Aturan Tambahan

Hal-hal yang belum di atur dalam Pedoman Dasar dan Penjabaran Pedoman Dasar dimuat dalam peraturan-peraturan/ketentuan-ketentuan tersendiri yang tidak bertentangan dengan Pedoman Dasar dan Penjabaran Pedoman Dasar

 

Pasal 16

Pengesahan

Pengesahan Pedoman Dasar LAPENMI HMI Cabang Ciputat ditetapkan pada Musyawarah Lembaga di Ciputat, tanggal 09 januari 2011 M yang diperbaharui pada Musyawarah Lembaga di Ciputat, tanggal 20 Oktober 2012 M.

 

PEDOMAN RUMAH TANGGA

LEMBAGA PENDIDIKAN MAHASISWA ISLAM

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

CABANG CIPUTAT

 BAB I

KEANGGOTAAN

 BAGIAN I

ANGGOTA

 Pasal 1

Anggota Biasa

Anggota Biasa Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam Himpunan Mahasiswa Islam adalah anggota biasa HMI yang mempunyai latar belakang disiplin ilmu Pendidikan dan yang peduli terhadap dunia pendidikan yang telah dinyatakan lulus mengikuti Rekrutmen Guru Bangsa (RGB) LAPENMI HMI Cabang Ciputat.

 

Pasal 2

Anggota Kehormatan

  1. Anggota Kehormatan Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Ciputat adalah mereka yang telah berjasa kepada Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam HMI Cabang Ciputat.
  2. Mekanisme dan penetapan Anggota Kehormatan diatur dalam ketentuan tersendiri.

 

BAGIAN II

SYARAT-SYARAT KEANGGOTAAN

 

Pasal 3

  1. Anggota Biasa HMI yang ingin menjadi anggota harus mengajukan permohonan serta menyatakan secara tertulis kesediaan mengikuti Pedoman Dasar/Pedoman Rumah Tangga serta ketentuan/peraturan organisasi lainnya.
  2. Anggota HMI yang mempunyai latar belakang disiplin ilmu Pendidikan dan yang peduli terhadap dunia pendidikan yang telah mengikuti dan dinyatakan lulus RGB LAPENMI HMI Cabang Ciputat.
  3. Apabila telah memenuhi syarat pada ayat (a dan b), maka yang bersangkutan ditetapkan sebagai Anggota Biasa LAPENMI HMI Cabang Ciputat.

 

BAGIAN III

MASA KEANGGOTAAN

 Pasal 4

  1. Masa keanggotaan Anggota Biasa adalah sejak dinyatakan lulus RGB hingga 2 (dua) tahun setelah berakhirnya masa studi D1, D2, D3 dan S1, dan hingga 1 tahun untuk S2 dan S3.
  2. Anggota Biasa yang habis masa keanggotaannya saat menjadi pengurus, diperpanjang masa keanggotaannya sampai selesai masa kepengurusannya (dinyatakan demisioner), setelah itu dinyatakan habis masa keanggotaannya dan tidak dapat menjadi pengurus lagi.
  3. Anggota Biasa yang melanjutkan studi ke strata perguruan tinggi yang lebih tinggi atau sama lebih dari 2 (dua) tahun sejak lulus dari studi sebelumnya dan tidak sedang diperpanjang masa keanggotaannya karena menjadi pengurus (sebagaimana dimaksud ayat b) maka masa keanggotaannya tidak diperpanjang lagi (berakhir).
  4. Masa keanggotaan berakhir apabila:
  5. Telah berakhir masa keanggotaannya.
  6. Meninggal dunia.
  7. Mengundurkan diri.
  8. Diberhentikan atau dipecat.
  9. Tidak terdaftar lagi di perguruan tinggi.

  

BAGIAN IV

HAK DAN KEWAJIBAN

 Pasal 5

Hak Anggota

  1. Anggota Biasa memiliki hak bicara, hak suara, hak partisipasi dan hak untuk dipilih.
  2. Anggota Kehormatan memiliki hak mengajukan saran/usul dan pertanyaan kepada pengurus sacara lisan dan tulisan.

 

Pasal 6

Kewajiban Anggota

  1. Setiap anggota berkewajiban menjaga nama baik LAPENMI
  2. Setiap anggota berkewajiban menjalankan tujuan organisasi.
  3. Setiap anggota berkewajiban menjunjung tinggi etika, sopan santun dan menjalankan aktifitas organisasi.
  4. Setiap anggota berkewajiban tunduk dan patuh kepada PD dan PRT serta berpartisipasi dalam setiap kegiatan LAPENMI yang sesuai dengan PD dan PRT.
  5. Setiap anggota biasa berkewajiban membayar uang pangkal dan iuran anggota.
  6. Setiap anggota berkewajiban menghormati simbol-simbol organisasi.

 

BAGIAN V

RANGKAP ANGGOTA DAN RANGKAP JABATAN

Pasal 7

  1. Dalam keadaan tertentu anggota LAPENMI dapat merangkap menjadi anggota organisasi lain atas persetujuan pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat.
  2. Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat tidak dibenarkan untuk merangkap jabatan pada organisasi lain seseuai ketentuan yang berlaku.
  3. Ketentuan tentang jabatan seperti dimaksud pada ayat (b) di atas di atur dalam ketentuan tersendiri.
  4. Anggota LAPENMI yang mempunyai kedudukan pada organisasi lain diluar LAPENMI pada Khususnya HMI pada umumnya, harus menyesuaikan tindakannya dengan Pedoman Dasar, Pedoman Rumah Tangga dan ketentuan-ketentuan organisasi lainnya.

 

BAGIAN VI

SANKSI ANGGOTA

 

Pasal 8

Sanksi Anggota

  1. Sanksi adalah bentuk hukuman sebagai bagian proses pembinaan yang diberikan organisasi kepada anggota yang melalaikan tugas, melanggar ketentuan organisasi, merugikan atau mencemarkan nama baik organisasi, dan/atau melakukan tindakan criminal dan tindakan melawan hukum lainnya.
  2. Sanksi dapat berupa teguran, peringatan, skorsing, pemecatan atau bentuk lainnya yang ditentukan oleh pengurus dan diatur dalam ketentuan tersendiri.
  3. Anggota yang dikenakan sanksi dapat mengajukan pembelaan di forum yang ditujuk untuk itu.

 

BAB II

STRUKTUR ORGANISASI

 STRUKTUR KEKUASAAN

 

BAGIAN I

MUSYAWARAH LEMBAGA

 

Pasal 9

Status

  1. Musyawarah Lembaga adalah forum pengambilan keputusan tertinggi di tingkat LAPENMI HMI Cabang Ciputat.
  2. Musyawarah Lembaga adalah musyawarah seluruh anggota LAPENMI HMI Cabang Ciputat.
  3. Musyawarah Lembaga diselenggarakan tiap 1 (satu) tahun sekali.

 

Pasal 10

Kekuasaan/Wewenang

  1. Membahas Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat.
  2. Menetapkan Pedoman pengurus lembaga LAPENMI HMI Cabang Ciputat.
  3. Memilih Direktur Eksekutif LAPENMI HMI Cabang Ciputat/Formateur dan dua Mide Formateur LAPENMI HMI Cabang Ciputat untuk diajukan kepada Pengurus HMI Cabang Ciputat untuk ditetapkan.
  4. Menetapkan Anggota Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Lembaga (MPKPL) LAPENMI HMI Cabang Ciputat.

 

Pasal 11

Tata Tertib

  1. Peserta Musyawarah Lembaga adalah Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat, anggota biasa, anggota kehormatan, MPKPL LAPENMI HMI Cabang Ciputat, dan undangan Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat.
  2. Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat adalah penanggung jawab penyelenggaraan Musyawarah Lembaga.
  3. Peserta penuh terdiri dari pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat dan anggota biasa.
  4. Peserta peninjau terdiri dari anggota kehormatan, anggota MPKPL LAPENMI HMI Cabang Ciputat, dan undangan Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat.
  5. Peserta penuh mempunyai hak suara dan hak bicara sedang peninjau dan undangan hanya mempunyai hak bicara.
  6. Pimpinan Sidang Musyawarah Lembaga dipilih dari peserta oleh peserta (utusan/penuh) dan berbentuk presidium.
  7. Musyawarah Lembaga dinyatakan sah apabila dihadiri oleh lebih dari separuh jumlah anggota.
  8. Apabila ayat (9) tidak terpenuhi, maka Musyawarah Lembaga dan Musyawarah Lembaga Luar Biasa diundur 1 x 24 jam dan setelah itu Musyawarah Lembaga dan Musyawarah Lembaga Luar Biasa dapat dianggap sah dengan persetujuan peserta.
  9. Setelah Menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) dan dibahas oleh peserta Musyawarah Lembaga maka Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat dinyatakan demisioner.

 

STRUKTUR PIMPINAN

 BAGIAN II

PENGURUS LAPENMI HMI CABANG CIPUTAT

 

Pasal 12

Status

  1. Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat merupakan aparat pembantu pengurus cabang dalam melaksanakan program-program HMI di bidang peningkatan dan pengembangan kreatifitas keilmuan dan keprofesian para anggota HMI yang berlatar belakang disiplin ilmu Pendidikan dan yang peduli terhadap dunia pendidikan.
  2. Masa jabatan pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat adalah 1 (satu) tahun semenjak pelantikan/serah terima jabatan dari Pengurus Demisioner.

 

Pasal 13

Personalia Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat

  1. Formasi Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat sekurang-kurangnya terdiri dari Direktur Eksekutif, Direktur Administrasi dan Keuangan, Direktur Pendidikan dan Pelatihan.
  2. Formasi Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat disesuaikan dengan kebutuhan lembaga dengan mempertimbangkan efektifitas dan efesiensi kinerja kepengurusan.
  3. Yang dapat menjadi personalia Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat adalah :
  4. Bertaqwa kepada Allah SWT.
  5. Dapat membaca Al-Qur’an.
  6. Tidak sedang dijatuhi sanksi organisasi.
  7. Dinyatakan lulus mengikuti Latihan Kader I dan telah mengikuti Rekrutmen Guru Bangsa (RGB).
  8. Tidak menjadi personalia Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat untuk periode ketiga kalinya kecuali jabatan Direktur Eksekutif.
  9. Yang dapat menjadi Direktur Eksekutif/Formateur Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat adalah :
  10. Bertaqwa kepada Allah SWT.
  11. Dapat membaca Al – Qur’an.
  12. Tidak sedang dijatuhi sanksi organisasi.
  13. Telah mengikuti Rekrutmen Guru Bangsa (RGB) dan LK II, dan atau harus bersedia mengikuti LK II bagi yang belum mengikuti maksimal 3 bulan setelah terpilih sebagai Formateur.
  14. Pernah menjadi Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat.
  15. Tidak sedang diperpanjang masa keanggotaannya karena sedang menjadi pengurus.
  16. Sehat secara jasmani maupun rohani.
  17. Berwawasan keilmuan yang luas dan memiliki bukti nyata sebagai insan akademis yakni karya tulis ilmiah.
  18. Selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat yang baru terbentuk, Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat yang lama harus mengadakan serah terima jabatan (pelantikan) dengan pengurus baru dengan menyampaikan laporan Musyawarah Lembaga kepada Pengurus HMI Cabang Ciputat.
  19. Pengesahan dan pelantikan pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat dilakukan oleh Pengurus HMI Cabang Ciputat melalui prosedur yang telah ditetapkan dalam pedoman prosedur/tata cara pengesahan dan pelantikan pengurus HMI Cabang Ciputat.
  20. Direktur Eksekutif LAPENMI HMI Cabang Ciputat berkedudukan sebagai anggota rapat harian dan rapat pleno HMI Cabang Ciputat.
  21. Apabila Direktur Eksekutif tidak dapat menjalankan tugas/non aktif, maka dapat dipilih Pejabat Direktur Eksekutif.
  22. Yang dimaksud dengan tidak dapat menjalankan tugas/non aktif adalah :
  23. Meninggal dunia.
  24. Sakit yang menyebabkan tidak dapat menjalankan tugas selama 3 (tiga) bulan berturut-turut.
  25. Tidak hadir dalam Rapat Harian dan/atau Rapat Direksi selama 1 (satu) bulan berturut-turut.
  26. Direktur Eksekutif dapat diberhentikan dan diangkat Pejabat Direktur Eksekutif sebelum Musyawarah Lembaga apabila memenuhi satu atau lebih hal-hal berikut :
  27. Membuat pernyataan kepada publik atas nama Pengurus LAPENMI Cabang Ciputat HMI yang melanggar Anggaran Dasar HMI pasal 6.
  28. Tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana diatur Pedoman Rumah Tangga LAPENMI HMI Cabang Ciputat pasal 13 ayat d.
  29. Usulan pemberhentian Direktur Eksekutif harus disampaikan secara tertulis disertai alasan, bukti, dan sanksi (bila dibutuhkan), dan tanda tangan pengusul kepada Pengurus HMI Cabang Ciputat. Usulan ditembuskan kepada Majelis Pengawas dan Konsultasi (MPK) LAPENMI HMI Cabang Ciputat.
  30. Direktur Eksekutif dapat mengajukan gugatan pembatalan atas putusan pemberhentiannya kepada Pengurus HMI Cabang Ciputat, selambat-lambatnya satu minggu sejak putusan pemberhentiannya ditetapkan. Keputusan Pengurus HMI Cabang Ciputat bersifat final dan mengikat.
  31. Dalam hal Direktur Eksekutif mangkat atau mengundurkan diri, Direktur PAO secara otomatis menjadi Pejabat Direktur Eksekutif untuk diusulkan, diangkat, dan diambil sumpah jabatan Pejabat Direktur Eksekutif oleh Pengurus HMI Cabang Ciputat.
  32. Apabila Direktur PAO tidak dapat menjadi Pejabat Direktur Eksekutif karena mangkat, mengundurkan diri, atau berhalangan tetap, maka Pejabat Direktur Eksekutif diangkat secara otomatis dan Direktur Administrasi dan Kesekretariatan untuk diusulkan, diangkat, dan diambil sumpah jabatan Pejabat Direktur Eksekutif oleh Pengurus HMI Cabang Ciputat.
  33. Apabila Direktur Administrasi dan Kesekretariatan tidak dapat menjadi Pejabat Direktur Eksekutif karena mangkat, mengundurkan diri, atau berhalangan tetap maka Pejabat Direktur Eksekutif diangkat berdasarkan rapat harian Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat untuk diusulkan, diangkat, dan diambil sumpah jabatan Pejabat Direktur Eksekutif oleh Pengurus HMI Cabang Ciputat.
  34. Pejabat Direktur dapat melakukan reshuffle atau penggantian personalia Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat dengan mempertimbangkan hal-hal berikut :
  35. Keaktifan yang bersangkutan dalam rapat-rapat Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat.
  36. Realisasi program kerja di bidang yang bersangkutan dalam 1 (satu) semester.
  37. Partisipasi yang bersangkutan dalam program kerja LAPENMI HMI Cabang Ciputat (diluar bidang yang bersangkutan).

 

Pasal 14

Tugas dan Wewenang

  1. Melaksanakan hasil-hasil Musyawarah Lembaga dan kebijakan Pengurus HMI Cabang Ciputat di bidang pendidikan.
  2. Dalam melaksanakan program secara teknik fungsional, Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat melakukan koordinasi dengan Pengurus HMI Cabang Ciputat.
  3. Memberikan laporan kegiatan kepada Pengurus HMI Cabang Ciputat setiap 3 (tiga) bulan sekali dan menyampaikan didepan Sidang Pleno HMI Cabang Ciputat.
  4. Menyampaikan laporan kerja dan pertanggungjawaban (LPJ) pada Musyawarah Lembaga LAPENMI HMI Cabang Ciputat dan diadakan pandangan umum serta evaluasi dari peserta.

 

MAJELIS PENGAWAS DAN KONSULTASI

 

BAGIAN III

Majelis Pengawas dan Konsultasi LAPENMI HMI Cabang Ciputat

 Pasal 15

Status, Fungsi, Keanggotaan, dan Masa Jabatan

  1. Majelis Pengawas dan Konsultasi LAPENMI HMI Cabang Ciputat adalah Majelis Pengawas dan Konsultasi ditingkat Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat.
  2. Majelis Pengawas dan Konsultasi LAPENMI HMI Cabang Ciputat berfungsi melakukan pengawasan terhadap kinerja Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat dalam melaksanakan PD/PRT dan ketetapan-ketetapan Musyawarah Lembaga.
  3. Anggota Majelis Pengawas dan Konsultasi LAPENMI HMI Cabang Ciputat berjumlah 7 (tujuh) orang.
  4. Anggota Majelis Pengawas dan Konsultasi LAPENMI HMI Cabang Ciputat adalah anggota/alumni LAPENMI HMI Cabang Ciputat yang pernah menjadi Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat.
  5. Masa jabatan anggota Majelis Pengawas dan Konsultasi LAPENMI HMI Cabang Ciputat disesuaikan dengan masa jabatan Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat.

 

Pasal 16

Tugas dan Wewenang

  1. Menjaga tegaknya PD/PRT LAPENMI HMI di tingkat LAPENMI HMI Cabang Ciputat.
  2. Mengawasi pelaksanaan PD/PRT LAPENMI HMI dan ketetapan Musyawarah Lembaga oleh Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat.
  3. Memberikan masukan dan saran kepada Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat baik diminta maupun tidak diminta.

 

BAB III

ALUMNI LAPENMI

 

Pasal 17

Alumni

  1. Alumni LAPENMI HMI Cabang Ciputat adalah anggota LAPENMI HMI Cabang Ciputat yang telah habis masa keanggotaannya.
  2. LAPENMI HMI Cabang Ciputat dan alumni LAPENMI HMI Cabang Ciputat memiliki hubungan historis, aspiratisf.
  3. Alumni LAPENMI HMI Cabang Ciputat berkewajiban tetap menjaga nama baik LAPENMI HMI Cabang Ciputat, meneruskan tujuan LAPENMI dimedan perjuangan yang lebih luas dan membantu LAPENMI HMI Cabang Ciputat dalam merealisasikan tujuannya.

 

BAB IV

KEUANGAN DAN HARTA BENDA

 

Pasal 18

Pengelolaan Keuangan dan Harta Benda

  1. Prinsip halal makdudnya adalah setiap satuan dana yang diperoleh tidak berasal dan tidak diperoleh dengan cara-cara yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
  2. Prinsip transparansi maksudnya adalah adanya keterbukaan tentang sumber dan besar dana yang diperoleh serta kemana dan berapa besar dana yang sudah dialokasikan.
  3. Prinsip bertanggung jawab maksudnya adalah setiap satuan dan yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan sumber dan keluarannya secara tertulis dan bila perlu melalui bukti nyata.
  4. Prinsip efektif maksudnya adalah setiap satuan dana yang digunakan berguna dalam rangka usaha lembaga mewujudkan tujuan LAPENMI.
  5. Prinsip efisien maksudnya adalah setiap satuan dana yang digunakan tidak melebihi kebutuhannya.
  6. Prinsip berkesinambungan maksudnya adalah setiap usaha untuk memperoleh dana menggunakan dana tidak merusak sumber pendanaan untuk jangka panjang dan tidak membebani generasi yang akan datang.
  7. Uang iuran anggota bersifat wajib yang besaran serta metode pemungutannya ditetapkan oleh Pengurus LAPENMI HMI Cabang Ciputat.

 

BAB V

LAGU, LAMBANG DAN ATRIBUT ORGANISASI

 

Pasal 19

Lagu, Lambang, dan atribut organisasi diatur dalam ketentuan tersendiri yang ditetapkan Musyawarah Lembaga.

 

BAB VI

PERUBAHAN PEDOMAN RUMAH TANGGA

 

Pasal 20

  1. Perubahan Pedoman Rumah Tangga hanya dapat dilakukan pada Musyawarah Lembaga.
  2. Perubahan Pedoman Rumah Tangga hanya dapat dilakukan melalui Musyawarah Lembaga yang pada waktu perubahan tersebut akan dilakukan dan disahkan dihadiri oleh 2/3 peserta utusan Musyawarah Lembaga dan disetujui minimal 50% +1 jumlah peserta utusan yang hadir.

 

BAB VII

ATURAN TAMBAHAN

 

Pasal 21

Struktur kepemimpinan LAPENMI HMI Cabang Ciputat berkewajiban melakukan sosialisasi Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga kepada seluruh anggota LAPENMI HMI Cabang Ciputat.