Menjadi Guru di Era Digital

Perkembangan dunia saat ini begitu cepat, segalanya dapat kita dapatkan dengan mudah melalui satu jaringan yang dinamakan “internet”. Dalam waktu hitungan detik begitu banyak informasi yang dibagikan melalui berbagai aplikasi dan website. Di Indonesia sendiri penggunaan internet begitu pesat, dari anak-anak hingga manula, perkotaan hingga ke pedesaan, siswa hingga pekerja, semua dengan mudah mengakses informasi saat ini. Bahkan Internet World Stats mencatat Indonesia berada di peringkat ke-5 dunia dalam penggunaan internet dengan 132.700.000 pengguna pada tahun 2017, jumlah tersebut melebihi jumlah pengguna dari Negara-negara maju dunia seperti Jepang di peringkat ke-6, Rusia di peringkat ke-7, Jerman di peringkat ke-9, bahkan UK ada di peringkat ke-12 dengan jumlah tidak lebih dari setengah jumlah pengguna internet di Indonesia.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat dalam laman websitenya pada tahun 2018 akan ada 3.6 miliar manusia di bumi yang mengaskses internet. Di Indonesia sendiri jumlah pengguna internet akan mencapai sekitar 51% atau sentengah lebih dari jumlah penduduknya. Namun, apakah jumlah tersebut merupakan jumlah dari pengguna yang sadar akan pentingnya kegunaan internet?. APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) mengumumkan hasil survei data statistik pengguna intenet Indonesia berdasarkan konten yang paling sering dijunjungi, pengguna internet paling sering mengunjungi web onlineshop sebesar 82,2 juta atau 62%. Dan konten sosial media yang paling banyak dikujungi adalah Facebook sebesar 71,6 juta pengguna atau 54% dan urutan kedua adalah Instagram sebesar 19,9 juta pengguna atau 15%. Jumlah dan data-data diatas akan mejadi momok jika masyarakat tidak sadar bawa internet dapat digunakan dari sekedar update di sosial media atau mencari informasi saja. Lalu, bagaimanakah dengan pendidikan Indonesia? Sudahkah menggunakan media internet dengan baik? Untuk guru sendiri, bagaimanakah menjadi guru di era digital saat ini? Sayangnya saat ini ternyata masih sangat banyak jumlah guru yang belum sadar tentang pentingnya internet untuk sarana pendidikan di dalam maupun di luar kelas.

APJII mencatat pegguna internet berdasarkan usia, kelompok usia 25 – 34 sebesar 75,8%  dan diikuti usia 10 – 24 dengan persentase 75,5%. Kelompok usia 10 – 24 tahun merupakan usia siswa yang mana merupakan angka yang sangat tinggi bagi suatu negara. Maka perlu bagi guru untuk mengupgrade informasi bagaimana memberikan pembelajaran di era digital saat ini, karena perkembangan yang begitu pesat akan sangat disayangkan rasanya jika tidak dibarengi dengan perkembangan dunia pendidikan melalui guru-guru yang sadar akan kegunaan internet. Guru saat ini masih sangat banyak yang hanya mengandalkan bahan ajar dari buku atau LKS yang tak jarang tak berubah metodenya secara menahun, padahal disaat yang bersamaan dunia begitu cepat berkembang.

Saat ini ada beragam metode pengajaran yang dapat digunakan para guru untuk meaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas dengan menggunakan internet seperti pemberian tugas dengan megakses informasi melalui internet sehingga siswa akan mendapatkan informasi positif yang sangat luas, diskusi online atau kelas online melalui aplikasi pengiriman pesan seperti whatsapp atau Line sehingga siswa dapat kapan dan dimana saja berdiskusi tentang pembelajaran dengan cara yang tidak monoton, video pembelajaran dan mendiskusikannya melalui youtube atau facebook / instagram sehingga siswa dapat melihat secara konkrit pembelajaran yang dilaksanakan sesuai dengan bahasan yang sedang berlangsung, dan bahkan saat ini pemerintah sudah menggunakan internet untuk menyelenggarakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang lebih memudahkan siswa dan juga dapat menghemat anggaran karena tidak perlu lagi menggunakan kertas yang harus dibagikan keseluruh daerah di Indonesia.

Di Indonesia sendiri saat ini juga sudah banyak platform pendidikan yang dengan mudah digunakan dengan jaringan internet dari perusahaan-perusahaan startup. Pertumbuhan startup pendidikan di Indonesia memang bisa dibilang belum secepat ranah lainnya, seperti e-commerce dan transportasi online. Namun, sudah ada beberapa startup lokal yang ambil bagian dalam usaha memberikan solusi dan membantu meningkatkan kualitas pendidikan di negara ini, seperti:

  1. Ruangguru, adalah sebuah platformyang bisa menghubungkan para siswa dengan guru-guru yang berkualitas secara online. Startup yang CEO nya belum lama ini baru saja di undang presiden dalam rapat terbatas bersama menteri-menteri juga menyediakan layanan materi pembelajaran yang bisa diakses secara online.
  2. HarukaEdu, adalah sebuah platform belajar onlineyang bisa digunakan oleh para lembaga pendidikan. Hingga saat ini, mereka telah bekerja sama dengan beberapa instansi pendidikan di Indonesia untuk kegiatan belajar dan mengajar.
  3. Zenius, adalah sebuah platform onlineyang menyediakan video pembelajaran serta worksheet untuk para siswa. Selain video online, Zenius juga menjual VCD dan DVD bagi mereka yang memiliki akses internet terbatas yang bisa dibeli secara online, maupun di reseller offline Zenius yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.
  4. PesonaEdu, adalah penyedia konten digital serta softwarependidikan yang bisa digunakan oleh siswa dan guru di Indonesia.
  5. Wardaya College, adalah situs belajar online / e-learning berisi video siswaan dan kuis matematika lengkap dan gratis. Selain matematika, mereka juga sedang mengembangkan materi belajar kimia dan siswaan sains lainnya.
  6. GoeSmart, adalah sosial media pendidikan yang diperuntukkan bagi siswa, guru, orang tua dan alumni. Berbasis web multimedia yang bersifat interaktif, informatif dan komunikatif.

 Menjadi guru di era digital saat ini bukan lagi tentang guru yang hanya berdiri di depan kelas dan mengajar berdasarkan satu ataudua literatur seperti buku dan LKS saja, akan tetapi juga akan lebih luas lagi dengan adanya perkembangan internet dan digital. Dengan semakin luasnya akses internet saat ini sudah selayaknya Indonesia harus “dipaksakan” menggunakan internet hingga ke dunia pendidikan agar tidak tertinggal jauh dengan Negara lainnya. Indonesia yang terdiri dari gugusan ribuan pulau akan sangat mempermudah pembagian informasi dalam dunia pendidikan jika dibarengi dengan akses internet yang baik dan kesadaran penggunaan internet yang baik pula bagi siswa dan gurunya.

Iklan

Youth for Peace

To begin with, Youth is best understood as a period of transition from the dependence of childhood to adulthood’s independence. That is why, as a category, youth is more fluid than other fixed age-groups. It is also defined as “the appearance, freshness, vigor, spirit, etc., characteristic of one who is young”. Youth is also defined as a social position that reflects the meanings different cultures and societies give to individuals between childhood and adulthood (United Nation, 2007: 1).

Furthermore, the entire success of the nation depends on the youth. It is clear that young people make up a greater proportion of the global population than ever before. Almost half (48%) of the world’s populations are under 24 years old. For that reason, youth or young people should be able to read, write, think, understand, analyze and discuss about the issues faced by their nation and that is why they should get a good education because they need to learn about what their nation needs in terms of education, economics, politics, social, culture, etc.

We know that Indonesia, however, have a lot of talented young people from many backgrounds, such as entrepreneurs, scientists, artists, engineers, etc. The role of youth is really important today for the future of Indonesia, albeit there are only a few young people understood about how to defense their country.

Regarding many problems and conflicts faced by Indonesia, young people need good morals and values to handle those conflicts in a positive way by learning the defense and conflict in Indonesia. So they know how to solve it right away.
Baca selengkapnya

Guru, Tanggung Jawab, dan Kesejahteraan

Guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Begitu berat tugas seorang guru jika kita berkaca pada pengertian tersebut.

Seorang guru harus mengerjakan banyak tugas dan kewajiban dengan baik dan secara profesional. Profesional dalam artian berkerja sesuai dengan porsi jamnya di sekolah dan mengerjakan tugas-tugas diluar sekolah seperti, membuat RPP, membuat materi dan bahan ajar, membuat bahan evaluasi, mengevaluasi hasil belajar, dan masih banyak tugas lainnya. Bahkan tugas yang sangat banyak tersebut harus dikerjakan oleh seorang guru seharian penuh di sekolah dan diluar sekolah.
Menteri Anies pada konferensi internasional di bawah Dirjen UNESCO Irina Bokova, bekerja sama dengan Geneva Spiritual Appeal Swiss dan Public Policy Institute Bulgaria pada 10-12 Maret 2016 mengatakan bahwa jumlah guru PNS meningkat 23 persen dari tahun 2000 hingga 2015, yaitu dari 1,42 juta menjadi 1,75 juta. Guru honorer pada periode yang sama meningkat 860 persen, dari 84,6 ribu menjadi 812,1 ribu. Adapun jumlah siswa meningkat 17 persen, yaitu dari 37,9 juta menjadi 44,5 juta.
Setiap tahunnya jumlah guru honorer selalu bertambah banyak dan melonjak tajam. Dan hal tersebut sayangnya tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan pendidikan di Indonesia, hasilnya banyak lulusan keguruan baru yang kebingungan mencari pekerjaan, dan bahkan yang sudah menjadi guru honorer yang sangat lama pun tak kunjung juga diangkat menjadi PNS.
Baca selengkapnya

Ini Tentang Wadah

Oleh Fikri Abdillah

Ciputat, 11-10-17

 

Ini tentang wadah
Wadah yang katanya bukan hanya tempat berproses mahasiswa Islam tertua, tapi juga paling kritis di Indonesia

Kritis karena diisi oleh kaum akademis yang gila akan diskusi setiap hari
Kritis di malam hari namun terlelap di siang hari
Kritis di diskusi namun senyap terhadap aksi
Sangat kritis hingga lupa akan prestasi dirinya sendiri

Katanya tak gentar oleh apapun namun meringis dalam hati perihal bagaimana kehidupan nanti
Katanya pejuang terhebat namun tak pernah berteriak fokus pada satu permasalahan pun
Katanya kaum pemberani namun masih saja takut akan kakinya sendiri

Disini adalah tempat dimana isinya bersembunyi dari topeng kehidupan pendahulunya di masa lalu
Isinya berteriak akan kebenaran walau terkadang entah kebenaran mana yang dibela

Aku rasa sangat sayang rasanya
Kita sama-sama sangat berjuang walau terkadang kita tak melulu bersama
Kita sama-sama merasakan lelah walau tak faham betul apa hasil dari keringat kita
Aku rasa sangat sayang rasanya kita melihat, mendengar, dan merasakan namun seakan tak mampu meladeninya

Memang sepertinya tak semua begitu pula
Mungkin masih ada, ya… Sekitar satu atau dua, mungkin juga ada puluhan atau ratusan
Masih ada yang berjiwa ikhlas dan memiliki keinginan untuk merubahnya
Sayangnya untuk hal ini aku tak bisa menggunakan kalkulator untuk menghitungnya

Aku dan kau sama
Kita sama-sama ada atau pernah ada di dalamnya
Kita sama-sama menyadarinya
Tapi lantas kenapa kita bungkam? Seakan zona nyaman sudah menjadi tempat paling sukar untuk berjuang

Seseorang pernah bertanya kepadaku tentang apa saja yang sudah ku lakukan untuk bangsa ini
Ya tentu saja melalui wadah yang selalu aku banggakan
Seketika memori di kepalaku seakan hilang, tak mampu menjawabnya
Lantas dia mentertawai keringatku, ya… keringatku

Kawan.. Aku dan kau sama
Waktu sudah berlalu begitu cepat
Bangsa ini sudah mulai memiliki barisan wadah lain yang begitu menarik bagi pemuda lainnya
Sedang kita masih saja berkutat dalam konflik yang begitu-begitu saja
Percaya padaku, konflik itu tak sama sekali berdampak baik pada bangsamu bahkan pada dirimu sendiri

Kawan.. Jika ada yang bisa aku rubah dari kehidupan masa laluku maka aku akan mencoba merubah segalanya, akan ku rubah dinamikanya
Sayangnya itu semua sudah berlalu dan aku pun tak yakin dapat merubahnya
Tapi tunggu dulu… Mungkin saja benih-benih baru akan tumbuh, menyadarinya, lalu merubahnya
Dan aku… Aku mungkin seharusnya dahulu tak pernah ada disana

Ini tentang wadah
Dimana aku dan kau berproses di dalamnya
Dimana aku dan kau berkelahi di dalamnya
Dimana aku dan kau saling mencinta di dalamnya

Aku mungkin bukan siapa-siapa untuk berharap kepada wadah yang sudah tua ini
Tapi jika ada yang bisa aku harapkan, berubahlah… berubahlah.

Bunda, Jangan Salah Kaprah Tentang Pendidikan Anak

Pendidikan anak menjadi salah satu hal yang sangat penting bagi sebuah keluarga di zaman sekarang. Keluarga yang biasanya memutuskan untuk memiliki 2 anak ini, secara positif menjadikan pendidikan anak sebagai salah satu yang wajib untuk dipersiapkan. Tak sedikit dari mereka yang menyediakan biaya besar demi pendidikan buah hatinya.

Keterbukaan fikiran orang tua terhadap pentingnya pendidikan, rupanya menjadikan sekolah-sekolah saling berlomba untuk memperbaiki diri dan mengembangkan sarana prasarananya. Tak lupa pula strategi marketing pun dibuat sedemikian rupa agar sesuai dengan visi sekolah dan keadaan pasar. Contohnya, jauh dari zaman ini, kita tahu bahwa pesantren pernah menjadi primadona bagi dunia pendidikan. Beberapa tahun lalu, ramai sekali sekolah berlabel Internasional didirikan dan di waktu yang hampir bersamaan pula tak sedikit sekolah berlabel Islam Terpadu bermunculan. Dikutip dari ISC Research, Sekolah Internasional di Indonesia mencapai 192 sekolah, jumlah tersebut adalah yang terbanyak di Asia Tenggara dan peringkat ke-10 di dunia.

Fasilitas eksklusif dan dibarengi dengan kurikulum yang sesuai visi serta selera pasar pun menjadi hal yang dijual oleh sekolah. Banyaknya pilihan sekolah yang menjual eksklusifitas saat ini, membuat para orang tua menjadikan sekolah secara utuh sebagai wadah belajar anak yang sempurna. Banyak orang tua yang menaruh harapan besar terhadap anak dan sekolah ketika mereka mendaftarkan anaknya tersebut. Sebaliknya pun banyak sekolah yang ingin menerima anak secara instan dengan diselenggarakannya ujian seleksi masuk bagi Sekolah Dasar. Hal ini jelas membuat bergesernya tujuan pendidikan itu sendiri. Hubungan dunia pendidikan tak lagi terjalin komunikasi segitiga yang baik antara anak, orang tua dan guru, namun sudah seperti hubungan antara produsen dan konsumen.

Harapan besar orang tua terkadang membuat tekanan terhadap anaknya sendiri dan guru sebagai orang yang disebut bertanggung jawab besar atas perkembangan pendidikan anaknya. Tak sedikit dari mereka yang akan marah ketika anaknya mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan, bahkan jika justru anaknya yang salah. Orang tua seakan tak peduli akan proses pembelajaran anak, tapi yang mereka pedulikan adalah hasil pembelajaran anaknya, hasil itu pun sayangnya terukur hanya sebatas angka, bukan value. Orang tua akan senang jika anaknya pandai dalam pelajaran dan mendapatkan nilai bagus, sebaliknya mereka akan kebakaran jenggot jika anaknya tak faham bahkan dalam hanya salah satu materi pelajaran. Parahnya, orang tua pun menuntut tingkah laku anak terhadap sekolah, mereka akan menanyakan kepada gurunya jika anaknya berbuat kenakalan di rumahnya.

Lucu memang, seakan orang tua sudah lupa bahwa pendidikan diawali justru dari rumah. Bahkan guru utama seorang anak adalah orang tuanya sendiri. Namun, lagi lagi biaya mahal menjadi alasan yang cukup untuk orang tua membebankan segalanya terhadap sekolah, termasuk tingkah laku anak. konsumen adalah raja, kurang lebih seperti itulah hukumnya. Guru pun haram hukumnya melakukan kesalahan sekecil apapun di dalam bisnis ini. Dan anak tentu saja menjadi korban ambisi eksklusifitas dunia pendidikan dan orang tua, pendidikan yang menyenangkan dan dunia bermain harus bergeser dengan kewajiban menguasai Bahasa Inggris dan hitungan.

Padahal menurut Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010, Pendidikan anak usia dini bertujuan untuk membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkepribadian luhur, sehat, berilmu, cakap, kritis, kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Selain itu pula, bertujuan untuk mengembangkan potensi kecerdasan spiritual, intelektual, emosional, kinestetis, dan sosial peserta didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan.

Pendidikan anak memang sangat penting untuk tumbuh kembangnya, namun jika pendidikan mulai bergeser dan salah kaprah maka justru anak lah yang menjadi korban karena anak merupakan objek dari pendidikan itu sendiri. Pendidikan selayaknya dijadikan wadah bagi seorang anak untuk berproses dari ketidak fahaman menjadi faham, bukan justru wadah yang instan. Maka perlu adanya pemahaman yang baik tentang bagaimana peran guru, sekolah, anak, dan orang tua. Dan ekslusifitas sekolah selayaknya bukan menjadi bahan untuk jualan saja, namun secara utuh untuk mendukung kegiatan belajar mengajar anak dan guru. Sehingga tercipta lingkungan yang menyenangkan untuk anak belajar sesuai dari tujuan belajar itu sendiri.

Negeri Ini Sudah Merdeka!

Negeri ini sudah merdeka
Jadi tak usahlah kau menghardik melulu
Indonesia ini dengan susah payah merdeka
Jadi hargailah perjuangan kakek nenek kita terdahulu

Kau percaya?
Negeri ini sudah merdeka
Jika kau tak melihatnya, maka cobalah merasakannya
Karena tak perlu menjadi  kaya dulu untuk merdeka

Apa gunanya kau sekolah tinggi-tinggi?
Kalau nantinya hanya menjadi kaum pencaci
Alih-alih menjadi sang pengkritisi
Malah justru menjadi sang pengumbar kata-kata cacian tanpa aksi

Aneh memang,
Disaat Indonesia membutuhkanmu, kau malah balik mencaci
Indonesia ini sudah merdeka!
Jika kau tak merasakannya, kaulah yang belum merdeka, bukan negeri ini!

Apakah kau sadar?
Indonesia ini sudah merdeka!
Sejak tahun empat lima
Negeri ini sudah merdeka!

Marilah merdeka!
Jika negeri ini saja bisa, lalu kenapa kita tidak?
Hentikan keluh dan cacimu wahai pemuda
Maka rasakanlah merdeka!

 

Fikri Abdillah
17.8.2017

Reformasi Pendidikan Indonesia

2 Mei merupakan Hari Pendidikan Nasional atau sering kita singkat dengan HARDIKNAS, bertepatan dengan hari lahirnya Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan Indonesia dan pendiri Taman Siswa.

Tahun ke tahun, peringatan hari ini selalu dirayakan secara luas di Indonesia. Ya, minimal diadakan upacara bendera di sekolah atau tingkatan sekolah tinggi. Tahun ke tahun pula lah pendidikan Indonesia selalu menjadi bahan renungan dan evaluasi massal bagi masyarakat Indonesia secara luas. Kita lihat saja media sosial, seperti Facebook, Path, Twitter, Instagram, Line, BBM, dan Whatsapp, hampir semuanya dipenuhi kata demi kata tentang pendidikan, walalupun hanya sebatas ucapan selamat atau kutipan kata-kata dari tokoh-tokoh terdahulu. Dijalan, walaupun tak sebanyak dulu, masih banyak orasi-orasi dari suara-suara guru dan mahasiswa untuk menyuarakan keluh kesahnya tentang pendidikan Indonesia.

Sayangnya, renungan dan evalasi massal tersebut terkadang hanya akan menjadi angin lalu saja. Silahkan kita tunggu besok (tanggal 3 Mei), lusa, atau tiga hingga lima hari selanjutnya, kata-kata dan suara-suara hanya akan menjadi goretan dan gaungan yang tertinggal begitu saja tanpa adanya aksi menyeluruh tentang bagaimana sebenarnya yang dibutuhkan Pendidikan Indonesia. Sejatinya pendidikan Indonesia tak akan berkembang pesat jika kesadaran melalui kata dan suara kemudian tak menjadi kesdaran kolektif bersama.
Baca selengkapnya

Uang Pas Aja…

Uang adalah alat tukar yang secara umum kita gunakan dalam transaksi jual beli maupun jasa setiap harinya. Setidaknya itu yang pernah saya pelajari tentang definisi uang ketika belajar di Sekolah Dasar, selebihnya uang sendiri adalah apa yang ada di dompet, kantong, rekening, bawah kasur, celengan, atau bahkan di sela-sela dashboard motor matic untuk sekedar menyimpan uang receh kembalian parkir.

“Uang pas aja”…

Kata itu mungkin cukup sering kita dengar dalam beberapa transaksi kita sehari-hari, seperti ketika di pasar melakukan jual beli, di tempat makan, dan ketika membayar angkutan umum. Biasanya kata-kata “uang pas aja” dikatakan si penjual atau supir ketika pembeli atau penumpang membayar dengan uang yang melebihi apa yang seharusnya dibayarkan.

Dulu saya kira hal seperti itu merupakan hal yang biasa-biasa saja. Seperti ketika saya membeli makanan seharga Rp. 10.000,00 dan membayarnya dengan Rp. 100.000,00., atau turun dari angkutan umum yang seharusnya membayar seharga Rp. 5.000,00 dan membayarnya dengan Rp. 50.000,00., saya kira hal itu akan menjadi hal yang biasa saja, hanya sekedar tentang “kembalian”. Dan ketika memang kembaliannya tidak ada, biasanya penjual atau supir mencoba untuk mencarinya atau terkadang saya yang diminta mencari “tukeran” uang pecahan tersebut.

Sampai pada saat ketika beberapa saat yang lalu saya kembali merasakan naik mobil angkutan umum setelah sekitar 2 tahun sudah tidak menggunakan jasa tersebut. Hari itu sebetulnya saya terpaksa harus menggunakan jasa angkutan umum karena motor yang biasa saya gunakan harus menjadi rezeki orang lain. Ketika itu hanya seorang ibu di depan samping pak supir, seorang ibu tepat di belakang supir, dan saya yang duduk di pojok paling belakang. Awalnya tak ada yang aneh, tak ada percakapan apapun antara kami, karena kami pun tak saling mengenal dan juga tak saling memulai percakapan.

Ditengah perjalanan kedua ibu tersebut telah sampai ditujuannya dan seperti biasa ibu itu mengatakan “kiri bang”, sesaat setelah mobil berhenti si ibu yang di belakang pak supir pun mengeluarkan uang Rp. 100.000,00 untuk pembayaran yang hanya Rp. 3000,00 saja. Sontak pak supir menolak dengan nada tinggi dan silanjut dengan nada tinggi dari si ibu.

 Pak Supir             : “Uang pas aja bu!”

Ibu                         : “ya terus gimana pak?! Gak ada!”

Pak Supir             : “Ya gimana, saya juga gak ada! Cuma tiga ribu, bayar 100.000 si ibu lagian!”

Ibu                         : “Demi Allah pak gak ada, bapaknya jangan nyolot gitu dong! Saya kan bilang gak ada lagi!”

Pak Supir             : “Ya ibunya juga keterlaluan jadi orang!”

 

Kira-kira seperti itulah percakapan dengan nada tinggi antara pak supir dan si ibu. Dan setelah perdebatan selesai kemudian pak supir melanjutkan perjalanan kembali. Sambil menyetir, pak supir masih menggerutu tentang kejadian tersebut dan mencoba menjelaskan kepada saya apa yang sebenarnya terjadi.

“Bukan apa-apa bang, bukannya saya gak mau ngasih itu uang. Tapi nih ya bang saya aja sehari narik cuma dapat lima puluh ribu, itu juga buat setoran. Saya dapat segitu juga kalo full narik 4 rit (istilah dalam mobil angkutan umum untuk 1x putaran tujuan perjalanan). Nah kalo si ibu bayar 100.000, saya mau bayar pakai apa?. Mau dipaksa juga gak ada, saya baru 2 rit ini. Memang kadang-kadang ada uang segitu, itu kalau saya belum setoran untuk 2 atau 3 hari. Ditambah sekarang makin susah dapat penumpang….”

Mendengar penjelasan pak supir, saya  baru saja tersadar tentang apa yang menurut kita sepele, bagi orang lain belum tentu sesepele itu. Uang yang bagi sebagian orang mungkin kecil, bagi sebagian lainnya sangat besar dan berarti. Bukan tentang uangnya, tapi tentang bagaimana kita menempatkan diri dalam setiap situasi. Kisah pak supir dan seorang ibu tadi sebenarnya sangat sepele, namun permasalahannya adalah si ibu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan mungkin itu pula yang terjadi pada kita, kata-kata “uang pas aja” yang menurut sebagian orang menjadi hal yang sepele, namun bagi pak supir atau juga para penjual menjadi hal yang penting, maka sebaiknya siapkanlah dulu uang pas untuk menggunakan kendaraan umum.